Virus Zika

Virus penyakit Zika adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Zika, yang menyebar ke orang terutama melalui gigitan nyamukyang sudah terinfeksi. Gejala yang paling umum dari Zika adalah demam, ruam, nyeri sendi, dan konjungtivitis (mata merah). Penyakit ini biasanya dengan gejala ringan yang berlangsung selama beberapa hari sampai satu minggu setelah digigit oleh nyamuk yang terinfeksi. Biasanya orang yang sakit merasakan tidak perlu untuk pergi ke rumah sakit, dan sangat jarang pendrita Zika meninggal. Untuk alasan ini, banyak orang mungkin tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi. Namun, infeksi virus Zika selama kehamilan dapat menyebabkan cacat lahir yang serius yang disebut microcephaly, serta cacat otak janin berat lainnya. Setelah seseorang telah terinfeksi, ia mungkin akan terlindungi dari infeksi di masa depan.

Virus Zika pertama kali ditemukan pada tahun 1947 dan dinamai Forest Zika di Uganda. Pada tahun 1952, kasus manusia pertama Zika terdeteksi dan sejak itu, wabah Zika telah dilaporkan di Afrika tropis, Asia Tenggara, dan Kepulauan Pasifik. Wabah Zika mungkin telah terjadi di banyak lokasi. Sebelum tahun 2007, setidaknya 14 kasus Zika telah didokumentasikan, meskipun kasus lainnya kemungkinan besar akan terjadi dan tidak dilaporkan. Karena gejala Zika mirip dengan banyak penyakit lainnya, banyak kasus mungkin yang tidak terdeteksi.

Pada bulan Mei 2015, Organisasi Kesehatan Pan Amerika (PAHO) mengeluarkan peringatan tentang infeksi virus Zika pertama dikonfirmasi di Brasil. Pada tanggal 1 Februari, 2016, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan virus Zika sebagai Bahaya Kesehatan Darurat Masyarakat International (PHEIC). transmisi lokal telah dilaporkan di banyak negara dan wilayah lainnya. Virus Zika kemungkinan akan terus menyebar ke daerah baru. (sumber)

Daerah Persebaran Virus Zika (sumber)

zikamain_051916_880

Pencegahan (sumber)

Tidak ada vaksin untuk mencegah penyakit virus Zika, oleh karenia itu mencegah Zika adalah dengan menghindari gigitan nyamuk. Nyamuk yang menyebarkan virus  Zika sebagian besar pada siang hari.

Mencegah penularan Zika dengan menggunakan kondom atau tidak berhubungan seks.

Langkah-langkah untuk mencegah gigitan nyamuk

Ketika di daerah dengan Zika dan penyakit lainnya disebarkan oleh nyamuk, mengambil langkah-langkah berikut:

  1. Menghindari kontak dengan nyamuk
  2. Meningkatkan daya tahan tubuh melalui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti diet seimbang, melakukan aktifitas fisik secara rutin, dll.
  3. Pada wanita hamil atau berencana hamil harus melakukan perlindungan ekstra terhadap gigitan nyamuk untuk mencegah infeksi virus Zika selama kehamilan, misalnya dengan memakai baju yang menutup sebagian besar permukaan kulit, berwarna cerah,
    menghindari pemakaian wewangian yang dapat menarik perhatian nyamuk seperti parfum dan deodoran.
  4. Mengenakan kemeja lengan panjang dan celana panjang.
  5. Tinggal di tempat-tempat dengan AC dan jendela dan layar pintu untuk menjaga nyamuk di luar.
  6. Mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan nyamuk di dalam dan di luar rumah Anda. Melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus (menguras dan menutup tempat penampungan air, serta memanfaatkan atau melakukan daur ulang barang bekas, ditambah dengan melakukan kegiatan pencegahan lain seperti menabur bubuk larvasida. Melakukan pengawasan jentik dengan melibatkan peran aktif masyarakat melalui Gerakan Satu Rumah Satu Juru Pemantau Jentik (Jumantik)
  7. Tidur di bawah nyamuk kelambu jika Anda berada di luar negeri atau di luar dan tidak mampu melindungi diri dari gigitan nyamuk.
  8. Mengunakan produk obat nyamuk. Memilih produk obat nyamuk terdaftar. Ketika digunakan obat nyamuk terdaftar terbukti aman dan efektif, bahkan untuk wanita hamil dan menyusui.
  • Selalu ikuti petunjuk label produk.
  • Mengajukan permohonan kembali obat nyamuk seperti yang diarahkan.
  • Jangan menyemprotkan obat nyamuk pada kulit di bawah pakaian.
  • Jika Anda juga menggunakan tabir surya, tabir surya sebelum menerapkan obat nyamuk.

Untuk melindungi anak Anda dari gigitan nyamuk:

  1. Jangan menggunakan obat nyamuk pada bayi berusia lebih muda dari 2 bulan.
  2. Jangan gunakan produk yang mengandung minyak lemon eucalyptus atau para-mentana-diol pada anak-anak muda dari 3 tahun.
  3. Berpakaian anak Anda dalam pakaian yang menutupi lengan dan kaki.
  4. Menutupi tempat tidur, kereta dorong, dan gendongan bayi dengan kasa nyamuk.
  5. Tidak berlaku obat nyamuk ke tangan, mata, mulut anak, dan memotong atau kulit yang teriritasi.
  6. Dewasa: Semprotkan obat nyamuk ke tangan Anda dan kemudian diusapkan ke wajah anak.

Perlakukan pakaian dan perlatan dengan permethrin atau membeli barang yang sudah diolesi permethrin.

  1. Pakaian diperlakukan tetap pelindung setelah beberapa pembasuhan. Lihat informasi produk untuk mempelajari berapa lama perlindungan akan bertahan.
  2. Jika memperlakukan barang sendiri, ikuti petunjuk produk dengan hati-hati.
  3. TIDAK menggunakan produk permethrin langsung pada kulit. Mereka dimaksudkan untuk mengobati pakaian.
  4. Bahkan jika mereka tidak merasa sakit, wisatawan kembali ke Amerika Serikat dari daerah dengan Zika harus mengambil langkah-langkah untuk mencegah gigitan nyamuk selama 3 minggu sehingga mereka tidak menyebar Zika untuk nyamuk yang dapat menyebarkan virus ke orang lain.

Permethrin adalah bahan kimia sintetis atau buatan yang digunakan secara luas oleh manusia. Permethrin banyak dimanfaatkan sebagai bahan insektisida atau bahan anti serangga dan akarisida yang efektif sebagai racun kontak. Bahan ini bersifat neurotoxic dan memiliki organisme target yang spektrumnya luas. Permethrin akan mempengaruhi membran neuron dan menyebabkan gangguan pada transer sinyal antar neuron. Akibatnya, organisme target akan mengalami kematian. (sumber)

Jika Anda memiliki Zika, melindungi orang lain dari sakit

  1. Selama minggu pertama infeksi, virus Zika dapat ditemukan dalam darah dan menular dari orang yang terinfeksi ke nyamuk lain melalui gigitan nyamuk. Nyamuk yang terinfeksi kemudian dapat menyebarkan virus ke orang lain.
  2. Untuk membantu mencegah orang lain dari sakit, ketat mengikuti langkah-langkah untuk mencegah gigitan nyamuk selama minggu pertama sakit.
  3. Virus Zika dapat menyebar saat berhubungan seks dengan seorang pria terinfeksi Zika kepada mitra seksnya.
  4. Belum diketahui berapa lama virus dapat tetap di dalam air mani laki-laki yang memiliki Zika, dan berapa lama virus dapat menyebar melalui hubungan seks.
  5. Belum diketahuibahwa virus dapat tinggal di air mani lebih lama dari dalam darah.
  6. Untuk membantu mencegah penyebaran Zika dari seks, Anda dapat menggunakan kondom, benar dari awal sampai akhir, setiap kali Anda berhubungan seks. Ini termasuk vaginal, anal, dan oral (mulut ke penis) seks.
  7. Tidak berhubungan seks adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa seseorang tidak mendapatkan virus Zika menular seksual.

Jika Anda adalah seorang pria yang tinggal di atau telah melakukan perjalanan ke daerah endemik virus Zika

  1. Jika pasangan Anda sedang hamil, baik menggunakan kondom dengan benar (peringatan: link ini berisi gambar grafis seksual) dari awal sampai akhir, setiap kali Anda memiliki vagina, anal, dan oral (mulut ke penis) seks, atau tidak melakukan hubungan seks selama kehamilan.
  2. Bahkan jika mereka tidak merasa sakit, wisatawan kembali ke Amerika Serikat dari daerah dengan Zika harus mengambil langkah-langkah untuk mencegah gigitan nyamuk  selama 3 minggu sehingga mereka tidak menyebar Zika untuk nyamuk yang dapat menyebarkan virus ke lainnya orang-orang.

Jika Anda khawatir tentang mendapatkan Zika dari pasangan seks pria

  1. Anda dapat menggunakan kondom dengan benar dari awal sampai akhir, setiap kali Anda memiliki vagina, anal, dan oral (mulut ke penis) seks. Kondom juga mencegah HIV dan PMS lainnya. Tidak berhubungan seks adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa Anda tidak mendapatkan virus Zika menular seksual.
  2. Wanita hamil harus berbicara dengan dokter atau penyedia layanan kesehatan lainnya jika mereka atau pasangan seks laki-laki mereka baru saja bepergian ke daerah dengan Zika, bahkan jika mereka tidak merasa sakit.

Informasi untuk wisatawan

Bagi siapa saja yang baru kembali dari negara yang sedang mengalami KLB penyakit virus Zika, juga diminta untuk memeriksakan kondisi kesehatannya dalam kurun waktu14 hari setelah tiba di Indonesia.

Segera periksakan diri ke dokter apabila mengalami keluhan atau gejala demam, ruam kulit, nyeri sendi dan otot, sakit kepala dan mata merah. Jangan lupa, sebutkan riwayat perjalanan dari negara yang sedang KLB penyakit virus Zika kepada dokter pemeriksa, pesan Menkes.

Dalam rangka melindungi masyarakat Indonesia terhadap kemungkinan tertular penyakit yang bersumber dari virus Zika, Pemerintah perlu mengambil langkah untuk mencegah kemungkinan masuknya virus dari luar negeri yang dilakukan oleh tingginya intensitas lalu lintas barang dan manusia lintas negara. Untuk itu Kementerian Kesehatan akan meningkatkan kewaspadaan di pintu masuk negara melalui Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di seluruh bandara dan pelabuhan di Indonesia. Upaya lainnya adalah meningkatkan pelayanan di fasilitas kesehatan.

Negara-negara yang mengalami KLB Virus Zika, yaitu Brazil, Cape Verde, Colombia, El Savador, Honduras, Martinique, Panama, dan Suriname. Sedangkan negara-negara yang memiliki status transmisi aktif, yaitu: Barbados, Bolivia, Curacao, The Dominican Republic, Ecuador, Fiji, French Guiana, Guadalope, Guatemala, Guyana, Haiti, Meksiko, New Caledonia, Nicaragua, Paraguay, Puerto Rico, Saint Martin, Samoa, Tonga, US Virgin Islands, dan Venezuela.

Menkes berpesan agar masyarakat tetap waspada terhadap perkembangan virus Zika, namun hendaknya tidak panik dan berlebihan.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id. (sumber)

Sumber tambahan

Transmisi & Risiko (sumber)

Zika Menyebar melalui gigitan nyamuk, virus Zika ditularkan kepada orang-orang melalui gigitan nyamuk (Aedes aegypti dan Aedes albopictus) yang sudah terinfeksi. Ini adalah nyamuk yang sama dengan endemik virus demam berdarah dan chikungunya.

  • Nyamuk ini biasanya bertelur di dan dekat air berdiri seperti ember, mangkuk, piring hewan, pot bunga dan vas. Mereka lebih memilih untuk menggigit orang, dan hidup di dalam ruangan dan di luar ruangan dekat orang.
    Nyamuk yang menyebarkan chikungunya, demam berdarah, dan Zika agresif menggigit di siang hari, tetapi mereka juga bisa menggigit di malam hari.
  • Nyamuk menjadi terinfeksi ketika mereka makan pada orang yang sudah terinfeksi virus. nyamuk yang terinfeksi kemudian dapat menyebarkan virus ke orang lain melalui gigitan.

Penyebaran dari ibu ke anak

  1. Seorang wanita hamil dapat menularkan virus Zika ke janinnya selama kehamilan. Zika merupakan penyebab microcephaly dan cacat otak janin berat lainnya. Kami sedang mempelajari berbagai masalah kesehatan potensial lainnya bahwa infeksi virus Zika selama kehamilan dapat menyebabkan.
  2. Seorang wanita hamil sudah terinfeksi virus Zika dapat menularkan virus kepada janinnya selama kehamilan atau sekitar saat kelahiran.
  3. Sampai saat ini, belum ada laporan dari bayi mendapatkan virus Zika melalui menyusui. Karena manfaat dari menyusui, ibu dianjurkan untuk menyusui bahkan di daerah di mana virus Zika ditemukan.

Melalui kontak seksual

  1. Virus Zika dapat disebarkan oleh seorang pria kepada mitra seksnya.
  2. Dalam kasus yang diketahui penularan seksual, pria mengalami gejala-gejala virus Zika. Dari kasus ini, kita tahu virus dapat menyebar ketika orang itu memiliki gejala, sebelum gejala mulai dan setelah gejala menyelesaikan.
  3. Dalam satu kasus, virus itu menyebar beberapa hari sebelum gejala berkembang.
  4. Virus ini hadir dalam air mani lebih lama dari dalam darah.

Melalui transfusi darah

  1. Pada Februari, 1, 2016, ada belum ada kasus yang dikonfirmasi transmisi transfusi darah di Amerika Serikat.
  2. Ada beberapa laporan kasus penularan transfusi darah di Brasil. Laporan-laporan ini saat ini sedang diselidiki.
  3. Selama wabah Polinesia Perancis, 2,8% dari donor darah dinyatakan positif Zika dan wabah sebelumnya, virus telah ditemukan di donor darah.

Risiko
Siapapun yang tinggal di atau bepergian ke suatu daerah di mana virus Zika ditemukan dan belum sudah terinfeksi virus Zika bisa mendapatkannya dari gigitan nyamuk. Setelah seseorang telah terinfeksi, ia mungkin akan dilindungi dari infeksi di masa depan.

Tanda dan Gejala (sumber)

  1. Kebanyakan orang yang terinfeksi virus Zika bahkan tidak akan tahu bahwa mereka memiliki penyakit karena mereka tidak akan memiliki gejala. Gejala yang paling umum dari Zika adalah demam, ruam, nyeri sendi, atau konjungtivitis (mata merah). Gejala umum lainnya termasuk sakit otot dan sakit kepala. Masa inkubasi (waktu dari paparan gejala) untuk penyakit virus Zika tidak diketahui, tetapi kemungkinan untuk menjadi beberapa hari sampai seminggu.
  2. Dokter atau penyedia layanan kesehatan lainnya jika Anda sedang hamil dan mengalami demam, ruam, nyeri sendi, atau mata merah dalam waktu 2 minggu setelah bepergian ke tempat di mana Zika telah dilaporkan. Pastikan untuk memberitahu dokter atau penyedia layanan kesehatan lain di mana Anda bepergian.
  3. Penyakit ini biasanya ringan dengan gejala yang berlangsung selama beberapa hari sampai satu minggu.
  4. Orang biasanya tidak merasa sakit untuk pergi ke rumah sakit, dan mereka sangat jarang mati Zika. Untuk alasan ini, banyak orang mungkin tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi.
  5. Virus Zika biasanya tetap dalam darah dari orang yang terinfeksi selama sekitar satu minggu tetapi dapat ditemukan lagi pada beberapa orang.
  6. Setelah seseorang telah terinfeksi, ia mungkin akan dilindungi dari infeksi di masa depan.

Diagnosa

  1. Gejala Zika yang mirip dengan demam berdarah dan chikungunya, penyakit menyebar melalui nyamuk yang sama yang menularkan Zika.
  2. Dokter atau penyedia layanan kesehatan lainnya jika menemukan gejala yang dijelaskan di atas dan telah mengunjungi daerah di mana endemik virus Zika.
  3. Jika Anda baru saja melakukan perjalanan, beritahu dokter atau penyedia layanan kesehatan lainnya kapan dan di mana Anda bepergian.
  4. dokter atau penyedia layanan kesehatan lainnya dapat memerintahkan tes darah untuk mencari Zika atau virus serupa lainnya seperti demam berdarah atau chikungunya.

Pengobatan

Tidak ada vaksin untuk mencegah atau obat untuk mengobati virus Zika.

Mengobati gejala:

  1. Beristirahatlah yang banyak.
  2. Minum cairan untuk mencegah dehidrasi.
  3. Minum obat seperti acetaminophen (Tylenol ®) atau parasetamol untuk mengurangi demam dan rasa sakit.
  4. Jangan minum aspirin dan non-steroid anti-inflamasi lainnya (OAINS) sampai berdarah dapat dikesampingkan untuk mengurangi risiko perdarahan.
  5. Jika Anda minum obat untuk kondisi medis lain, berbicara dengan dokter atau penyedia layanan kesehatan lainnya sebelum mengambil obat tambahan.
  6. Jika Anda memiliki Zika, mencegah gigitan nyamuk untuk minggu pertama penyakit Anda.
  7. Selama minggu pertama infeksi, virus Zika dapat ditemukan dalam darah dan lulus dari orang yang terinfeksi ke nyamuk melalui gigitan nyamuk.
  8. Nyamuk yang terinfeksi kemudian dapat menyebarkan virus ke orang lain.

Informasi untuk kelompok khusus dapat di klik di sini

Informasi untuk penyedia layanan kesehatan dapat di klik di sini

Publikasi

Daftar Pustaka

http://www.depkes.go.id/resources/download/info-terkini/PERTANYAAN%20SEPUTAR%20PENYAKIT%20VIRUS%20ZIKA.pdf

Demam Berdarah Dengue

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas daerah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk.

Wabah demam berdarah dengue sendiri berawal di Yunani, Amerika Serikat, Australia dan Jepang pada tahun 1920an. Sejak kemunculannya di 1969 sampai sekarang, penyakit DBD ini selalu muncul dari musim ke musim (sumber).

Di Indonesia Demam Berdarah pertama kali ditemukan di kota Surabaya pada tahun 1968, dimana sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia (Angka Kematian (AK) : 41,3 %). Dan sejak saat itu, penyakit ini menyebar luas ke seluruh Indonesia (sumber).

Persebaran Kasus

Di Indonesia DBD telah menjadi masalah kesehatan masyarakat selama 41 tahun terakhir. Sejak tahun 1968 telah terjadi peningkatan persebaran jumlah provinsi dan kabupaten/kota yang endemis DBD, dari 2 provinsi dan 2 kota, menjadi 32 (97%) dan 382 (77%) kabupaten/kota pada tahun 2009. Provinsi Maluku, dari tahun 2002 sampai tahun 2009 tidak ada laporan kasus DBD. Selain itu terjadi juga peningkatan jumlah kasus DBD, pada tahun 1968 hanya 58 kasus menjadi 158.912 kasus pada tahun 2009 (sumber).

Untuk tahun 2015, jumlah kasus DBD mengalami penurunan dari tahun 2014. Pada Oktober-Desember 2014, jumlah kasus DBD adalah 23.882 kasus, sementara tahun 2015 hanya mencapai 7.244 kasus.

Data Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan menyebutkan hingga akhir Januari tahun ini, kejadian luar biasa (KLB) penyakit DBD dilaporkan ada di 9 Kabupaten dan 2 Kota dari 7 Provinsi di Indonesia, antara lain: 1) Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten; 2) Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan; 3) Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu; 4) Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali; 5) Kabupaten Bulukumba, Pangkep, Luwu Utara, dan Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan; 6) Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo; serta 7) Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Sepanjang bulan Januari, kasus DBD yang terjadi di wilayah tersebut tercatat sebanyak 492 orang dengan jumlah kematian 25 orang (sumber)

Penyebab

Penyakit ini disebabkan oleh virus Dengue dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. DBD ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi virus Dengue. Virus Dengue penyebab Demam Dengue (DD), Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Dengue Shock Syndrome (DSS) termasuk dalam kelompok B Arthropod Virus (Arbovirosis) yang sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviride, dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu: Den-1, Den-2, Den-3, Den-4.

Patogenesis

Virus merupakan mikrooganisme yang hanya dapat hidup di dalam sel hidup. Maka demi kelangsungan hidupnya, virus harus bersaing dengan sel manusia sebagai pejamu (host) terutama dalam mencukupi kebutuhan akan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan pejamu, bila daya tahan baik maka akan terjadi penyembuhan dan timbul antibodi, namun bila daya tahan rendah maka perjalanan penyakit menjadi makin berat dan bahkan dapat menimbulkan kematian.

Patogenesis DBD dan SSD (Sindrom syok dengue) masih merupakan masalah yang kontroversial. Dua teori yang banyak dianut pada DBD dan SSD adalah hipotesis infeksi sekunder (teori secondary heterologous infection) atau hipotesis immune enhancement. Hipotesis ini menyatakan secara tidak langsung bahwa pasien yang mengalami infeksi yang kedua kalinya dengan serotipe virus dengue yang heterolog mempunyai risiko berat yang lebih besar untuk menderita DBD/Berat. Antibodi heterolog yang telah ada sebelumnya akan mengenai virus lain yang akan menginfeksi dan kemudian membentuk kompleks antigen antibodi yang kemudian berikatan dengan Fc reseptor dari membran sel leokosit terutama makrofag. Oleh karena antibodi heterolog maka virus tidak dinetralisasikan oleh tubuh sehingga akan bebas melakukan replikasi dalam sel makrofag. Dihipotesiskan juga mengenai antibodi dependent enhancement (ADE), suatu proses yang akan meningkatkan infeksi dan replikasi virus dengue di dalam sel mononuklear. Sebagai tanggapan terhadap infeksi tersebut, terjadi sekresi mediator vasoaktif yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah, sehingga mengakibatkan keadaan hipovolemia dan syok.

Patogenesis terjadinya syok berdasarkan hipotesis the secondary heterologous infection yang dirumuskan oleh Suvatte, tahun 1977. Sebagai akibat infeksi sekunder oleh tipe virus dengue yang berlainan pada seorang pasien, respons antibodi anamnestik yang akan terjadi dalam waktu beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit dengan menghasilkan titer tinggi antibodi IgG anti dengue. Disamping itu, replikasi virus dengue terjadi juga dalam limfosit yang bertransformasi dengan akibat terdapatnya virus dalam jumlah banyak. Hal ini akan mengakibatkan terbentuknya virus kompleks antigen-antibodi (virus antibody complex) yang selanjutnya akan mengakibatkan aktivasi sistem komplemen. Pelepasan C3a dan C5a akibat aktivasi C3 dan C5 menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah dan merembesnya plasma dari ruang intravaskular ke ruang ekstravaskular. Pada pasien dengan syok berat, volume plasma dapat berkurang sampai lebih dari 30 % dan berlangsung selama 24-48 jam. Perembesan plasma ini terbukti dengan adanya, peningkatan kadar hematokrit, penurunan kadar natrium, dan terdapatnya cairan di dalam rongga serosa (efusi pleura, asites). Syok yang tidak ditanggulangi secara adekuat, akan menyebabkan asidosis dan anoksia, yang dapat berakhir fatal; oleh karena itu, pengobatan syok sangat penting guna mencegah kematian. Hipotesis kedua, menyatakan bahwa virus dengue seperti juga virus binatang lain dapat mengalami perubahan genetik akibat tekanan sewaktu virus mengadakan replikasi baik pada tubuh manusia maupun pada tubuh nyamuk. Ekspresi fenotipik dari perubahan genetik dalam genom virus dapat menyebabkan peningkatan replikasi virus dan viremia, peningkatan virulensi dan mempunyai potensi untuk menimbulkan wabah. Selain itu beberapa strain virus mempunyai kemampuan untuk menimbulkan wabah yang besar. Kedua hipotesis tersebut didukung oleh data epidemiologis dan laboratoris.

 

Sebagai tanggapan terhadap infeksi virus dengue, kompleks antigen-antibodi selain mengaktivasi sistem komplemen, juga menyebabkan agregasi trombosit dan mengaktivitasi sistem koagulasi melalui kerusakan sel endotel pembuluh darah. Kedua faktor tersebut akan menyebabkan perdarahan pada DBD. Agregasi trombosit terjadi sebagai akibat dari perlekatan kompleks antigen-antibodi pada membran trombosit mengakibatkan pengeluaran ADP (adenosin di phosphat), sehingga trombosit melekat satu sama iain. Hal ini akan menyebabkan trombosit dihancurkan oleh RES (reticulo endothelial system) sehingga terjadi trombositopenia. Agregasi trombosit ini akan menyebabkan pengeluaran platelet faktor III mengakibatkan terjadinya koagulopati konsumtif (KID = koagulasi intravaskular deseminata), ditandai dengan peningkatan FDP (fibrinogen degredation product) sehingga terjadi penurunan faktor pembekuan.

Agregasi trombosit ini   juga mengakibatkan gangguan fungsi trombosit, sehingga walaupun jumlah trombosit masih cukup banyak, tidak berfungsi baik. Di sisi lain, aktivasi koagulasi akan menyebabkan aktivasi faktor Hageman sehingga terjadi aktivasi sistem kinin sehingga memacu peningkatan permeabilitas kapiler yang dapat mempercepat terjadinya syok. Jadi, perdarahan masif pada DBD diakibatkan oleh trombositpenia, penurunan faktor pembekuan (akibat KID), kelainan fungsi trombosit, dan kerusakan dinding endotel kapiler. Akhirnya, perdarahan akan memperberat  syok  yang terjadi (sumber).

Tanda dan Gejala

Klasifikasi kasus yang disepakati sekarang adalah (WHO, 2009): 1. Dengue tanpa tanda bahaya (dengue without warning signs), 2. Dengue dengan tanda bahaya (dengue with warning signs), dan 3. Dengue berat (severe Dengue)

Kriteria dengue tanpa/dengan tanda bahaya : Dengue probable : • Bertempat tinggal di /bepergian ke daerah endemik dengue • Demam disertai 2 dari hal berikut :  Mual, muntah  Ruam  Sakit dan nyeri  Uji torniket positif  Lekopenia  Adanya tanda bahaya • Tanda bahaya adalah :  Nyeri perut atau kelembutannya  Muntah berkepanjangan  Terdapat akumulasi cairan  Perdarahan mukosa  Letargi, lemah  Pembesaran hati > 2 cm  Kenaikan hematokrit seiring dengan penurunan jumlah trombosit yang cepat Dengue dengan konfirmasi laboratorium (penting bila bukti kebocoran plasma tidak jelas)

Kriteria dengue berat : • Kebocoran plasma berat, yang dapat menyebabkan syok (DSS), akumulasi cairan dengan distress pernafasan. • Perdarahan hebat, sesuai pertimbangan klinisi • Gangguan organ berat, hepar (AST atau ALT ≥ 1000, gangguan kesadaran, gangguan jantung dan organ lain)

Untuk mengetahui adanya kecenderungan perdarahan dapat dilakukan uji tourniquet, walaupun banyak faktor yang mempengaruhi uji ini tetapi sangat membantu diagnosis, sensitivitas uji ini sebesar 30 % sedangkan spesifisitasnya mencapai 82 % (Mayxay et al, 2008).

Pemeriksaan (sumber)

Pemeriksaan Non Struktural 1 (NS1) ditujukan untuk mendeteksi virus dengue lebih awal. Virus dengue memiliki 3 protein structural dan 7 protein non-structural. NS1 adalah glikoprotein non structural yang diperlukan untuk kelangsungan hidup virus.

Keuntungan mendeteksi antigen NS1 yaitu untuk mengetahui adanya infeksi dengue pada penderita tersebut pada fase awal demam, tanpa perlu menunggu terbentuknya antibodi.

Dengan demikian kita dapat segera melakukan terapi suportif dan pemantauan pasien . Hal ini tentunya akan mengurangi risiko komplikasi seperti demam berdarah dengue dan dengue shock syndrome yang dapat berakibat kematian.

Pemeriksaan Dengue NS1 Antigen sebaiknya dilakukan pada penderita yang mengalami demam disertai gejala klinis infeksi virus dengue (pada hari 1-3 mulai demam) untuk mendeteksi infeksi akut disebabkan virus dengue.

Menurut Dr.Aryati,dr, MS, Sp.PK(K), positivitas dan kadar Ag NS1 Dengue tertinggi pada hari-hari awal demam dan akan menurun dengan bertambahnya hari demam, sehingga sebaiknya dilakukan sebelum hari keempat demam.

Pemeriksaan serologis berupa IgM dan IgG antidengue diperlukan untuk membedakan demam yang diakibatkan virus dengue ataukah demam oleh sebab lain (demam tifoid, influenza, malaria, hepatitis dan lain-lain).

Penatalaksanaan

  1. Tirah baring
  2. Pemberian makanan lunak
  3. Minum banyak 1,5-2 liter/24 jam dengan air teh, gula atau susu.
  4. Hindari sikat gigi
  5. Pemberian cairan melalui infuse
  6. Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik
  7. Pantau tanda-tanda vital (Tekanan Darah, Suhu, Nadi, RR).
  8. Pantau adanya tanda-tanda renjatan
  9. pantau tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
  10. Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.

Pencegahan (sumber)

Pencegahan demam berdarah yang paling efektif dan efisien sampai saat ini adalah kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus, yaitu :   1) Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain 2) Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya; dan 3) Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular Demam Berdarah.

Adapun yang dimaksud dengan Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan seperti 1) Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan; 2) Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk; 3) Menggunakan kelambu saat tidur; 4) Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk; 5) Menanam tanaman pengusir nyamuk, 6) Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah; 7) Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain. PSN perlu ditingkatkan terutama pada musim penghujan dan pancaroba, karena meningkatnya curah hujan dapat meningkatkan tempat tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD, sehingga seringkali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) terutama pada saat musim penghujan.

Daftar Pustaka

Mayxay M, Keoluangkhot V, Sisouphone S, Vongpachanh P, Moore C, Thaochaikong T, Thongpaseth S, Phetsouvanh R, Strobel M et al. Tourniquet test and dengue in Lao adult patients. Global Innovation to Fight Dengue. 2nd International Conference on Dengue and Dengue Haemorrhagic Fever. Phuket Thailand, 2008. p. 234.

World Health Organization. Dengue Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control. New edition. Geneva. 2009.

 

The Effect Of Giving Warm Compresses on Intestinal Motility in Patients Post Appendectomy

The Effect Of Giving Warm Compresses on Intestinal Motility in Patients Post  Appendectomy in Sanjiwani Hospital, Gianyar (2011)

1 I Gusti Ngurah Agung Hendra Kusuma (Student of Nursing Science Departement. of STIKes Wira Medika PPNI Bali)

2 I Nyoman Dharma Wiasa SKp, SH, MM (RSUP Sanglah Hospital)

3 Ns. Ni Wayan Trisna Dewi S.Kep (Docent Nursing Science Departement. of STIKes Wira Medika PPNI Bali)

Acute appendicitis is inflammation that occurs in the appendix. Appendicitis may be caused by fekalit (mass in the stool), tumors, and foreign objects (Brunner & Suddarth, 2001). The incidence of appendicitis performed apendiktomi action in Indonesia is quite high at 27% of cases of the total population in Indonesia per year. Most patients who undergo apendiktomi surgery in hospitals Sanjiwani Gianyar performed using the technique of spinal block anesthesia. Selection of surgery technique blocks spinal anesthesia is to minimize the occurrence of nerve trauma directly, reducing the response to the stress of surgery, withhold the amount of catecholamines intra-operative on the value before surgery, and make period ileus that lasts shorter (Goodman & Gilman, 2007).

Intestinal motility is a sound passage of air and liquids created by the peristaltic. Normally the air and the liquid flowing through the intestines causing a gurgling sound or a click and gurgle that occur irregularly 5 to 35 times per minute (Potter and Perry 2005). Patients experiencing problems apendiktomi intestinal motility disorders associated with anesthesia, either general anesthesia or the anesthesia block the respective duration of the anesthetic effect depends on the patient’s condition and the dose rather than anesthesia. Gut motility disorders occur, such as a decrease in intestinal peristalsis of the normal range of 5-35 times per minute to decrease the effects of anesthesia blockade sympathetic nerve fibers originating from thoracal five (T5) until the lumbar one (L1) that causes the intestines to contract blockade weak. Intestinal motility disorders experienced by patients in addition to a decrease in peristalsis or bowel sounds, usually marked with the resulting flatulence abdominal distention or increase in intra-abdominal pressure.

The collection of data obtained from 20 sample in the third week of May to the first week of July 2011. The study was conducted by using one group pretest-posttest design that is before the intervention giving warm compress examination bowel sounds and warm compresses after giving back examination bowel sounds.

Frequency of bowel motility respondents when pretest pre test

Frequency of bowel motility respondents posstest Posttest

Result The Effect of Giving Warm Compresses on Intestinal Motility in Patients Post Appendectomy

Results N
Average before 8,1500 20
average after 9,8500 20
The average before-after -1,70000
t before-after -3,278
df 19
Sig. (2-tailed) 0,004

Giving a warm compress using conduction, stimulating the bowel to contract by stimulation warm at the end of the peripheral nerves found in the walls of the abdominal skin and deliver these signals to the spinal cord, then the signal is forwarded to the autonomic nervous system that is controlled by the hypothalamus and further stimulate employment rather than the sympathetic nervous system and parasympathetic nervous that of the gastrointestinal tract. The sympathetic nervous system neurotransmitter release in the form of norepineprin which serves to decrease intestinal motility work, while the parasympathetic nervous system to release neurotransmitters such as acetylcholine which serves to enhance the work of peristalsis / motility (Guyton & Hall, 2007; Ganong, 2008).

Warm compresses useful to provide a sense of comfort relaxes stiff muscles, stimulate an increase in intestinal motility weakened by the influence of narcotics or medication effects of anesthesia The influence of a warm compress against intestinal motility post apendiktomi patients with spinal block anesthesia was done with Paired Samples Test at significance level α = 0.05, the value of (p) of 0.004, which is smaller than the value (α), so that Ho rejected and Ha accepted. It showed no significant effect giving a warm compress against intestinal motility post apendiktomi patients with spinal block anesthesia

KEY WORDS: Appendictomy, intestinal motility, warm compresses

Promkes Terhadap Penerapan PHBS Tatanan Pura

Effect of Health Promotion Implementation of Clean and Healthy Behavior in Public Places Order (Temple)

Nurul Faidah1, Putu Agus Adi Putra Permana1, Made Nursari1

STIKes Wira Medika Bali1

Mentoring Life Style Clean and Health was done by approaching public area. Temple is one public area in Bali, whenever behavior of a clean and healthy should be applied. Ones strategy to change behaviors is promotion of health .

This study aims to determine the effect of the application of health promotion with healthy hygienic behavior in a public area (temple) in the village of Ped in Nusa Penida. This type of research design quasy experiment with pre-test – post-test design with control group, using purposive sampling technique. The total sample of 60 people. Measurement goals using five Instrument such as wearing clean, tidy and polite clothes; to wash hand with soap in water flow; throw garbage in their place; neither smoking nor spitting in any area of the temple.

The results shows the application of hygienic behavior and healthy pre-test in the experimental group the majority (73.3 %) less and the control group was also less ( 66.7 % ).

Slide1

Slide2

Application of hygienic behavior and healthy post-test in the experimental group the majority (76.7 %) good, while the control group post-test portion majority ( 66.7 % ) less. Results of Mann- Whitney test showed effect on the application of health promotion and healthy hygienic behavior in a public place order (temple).

Keywords : Health Promotion, Application Clean And Healthy Lifestyle, Public Places Order (Temple)

Jurnal Jiwa, Komunitas dan Manajemen Vol.1, No.1

Penggunaan Virgin Coconat Oil (VCO) Pada Kepala Terhadap Suhu Tubuh Bayi

ABSTRAK

The Effect Of Use Virgin Coconut Oil (VCO)  On The Head To Temperature Of Babies  In Perinatology Ward In BRSU Tabanan.

Ni Made Ananda Asdi Lestari¹, I Wayan Sukawana², Kiki Rizki F.A.³

Body temperature is defined as one of the vital signs that describe the health status of individuals. On the baby’s body temperature regulation is not perfect, infant resulted experiencing hypothermia. Some of the action are taken to prevent heat loss in premature infants, including use  virgin coconat oil (VCO)  on the head of baby in Perinatology ward BRSU Tabanan.

Research design used the approach Quasy – exsperiment with time series ppre-post design without control group. The sampling technique used consecutive sampling nonprobability sampling which sample of 7 respondents. Data was collected through observation of implementation using VCO and  the body temperature measured by digital termometer.

The result showed before given VCO all of samples (100%) as hypothermia and after given VCO all of sample has normal temperature.  Paired t test result  p=0,000 (p<0,05) and value of  t 14,951 then Ho rejected.  Concluded there was a the average difference before and after administration of VCO on the baby’s head in Perinatology ward in BRSU Tabanan.

Based of the result the are imfortant for nurses to provide information abaout the importance of treatment of the baby’s body temperature by using a VCO, so that the parents can do it independently.

Key word : Body temperature, Baby, VCO

 

Statistik

Statistik merupakan kumpulan data, angka, atau grafik. Banyak definisi yang bisa didapatkan dari berbagai sumber, walaupun ditulis dengan bahasa yang berbeda tetapi maknanya tetap sama. Beberapa definisi statistik sebagai berikut:

Statistik adalah sekumpulan cara maupun aturan-aturan yang berkaitan dengan pengumpulan, pengolahan (analisis), penarikan kesimpulan, atas data-data yang berbentuk angka, dengan mengunakan suatu asumsi-asumsi tertentu. (Irianto,  2010)

Statistics is the study of the collection, analysis, interpretation, presentation, and organization of data  (Dodge, 2006)

Daftar Pustaka

Dodge, Y. (2006) The Oxford Dictionary of Statistical Terms, OUP. ISBN 0-19-920613-9

Irianto, A. (2010) Statistik: Konsep Dasar, Aplikasi, dan Pengembangannya. ISBN 979-3465-45-X