Demam Berdarah Dengue

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas daerah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk.

Wabah demam berdarah dengue sendiri berawal di Yunani, Amerika Serikat, Australia dan Jepang pada tahun 1920an. Sejak kemunculannya di 1969 sampai sekarang, penyakit DBD ini selalu muncul dari musim ke musim (sumber).

Di Indonesia Demam Berdarah pertama kali ditemukan di kota Surabaya pada tahun 1968, dimana sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia (Angka Kematian (AK) : 41,3 %). Dan sejak saat itu, penyakit ini menyebar luas ke seluruh Indonesia (sumber).

Persebaran Kasus

Di Indonesia DBD telah menjadi masalah kesehatan masyarakat selama 41 tahun terakhir. Sejak tahun 1968 telah terjadi peningkatan persebaran jumlah provinsi dan kabupaten/kota yang endemis DBD, dari 2 provinsi dan 2 kota, menjadi 32 (97%) dan 382 (77%) kabupaten/kota pada tahun 2009. Provinsi Maluku, dari tahun 2002 sampai tahun 2009 tidak ada laporan kasus DBD. Selain itu terjadi juga peningkatan jumlah kasus DBD, pada tahun 1968 hanya 58 kasus menjadi 158.912 kasus pada tahun 2009 (sumber).

Untuk tahun 2015, jumlah kasus DBD mengalami penurunan dari tahun 2014. Pada Oktober-Desember 2014, jumlah kasus DBD adalah 23.882 kasus, sementara tahun 2015 hanya mencapai 7.244 kasus.

Data Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan menyebutkan hingga akhir Januari tahun ini, kejadian luar biasa (KLB) penyakit DBD dilaporkan ada di 9 Kabupaten dan 2 Kota dari 7 Provinsi di Indonesia, antara lain: 1) Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten; 2) Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan; 3) Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu; 4) Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali; 5) Kabupaten Bulukumba, Pangkep, Luwu Utara, dan Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan; 6) Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo; serta 7) Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Sepanjang bulan Januari, kasus DBD yang terjadi di wilayah tersebut tercatat sebanyak 492 orang dengan jumlah kematian 25 orang (sumber)

Penyebab

Penyakit ini disebabkan oleh virus Dengue dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. DBD ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi virus Dengue. Virus Dengue penyebab Demam Dengue (DD), Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Dengue Shock Syndrome (DSS) termasuk dalam kelompok B Arthropod Virus (Arbovirosis) yang sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviride, dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu: Den-1, Den-2, Den-3, Den-4.

Patogenesis

Virus merupakan mikrooganisme yang hanya dapat hidup di dalam sel hidup. Maka demi kelangsungan hidupnya, virus harus bersaing dengan sel manusia sebagai pejamu (host) terutama dalam mencukupi kebutuhan akan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan pejamu, bila daya tahan baik maka akan terjadi penyembuhan dan timbul antibodi, namun bila daya tahan rendah maka perjalanan penyakit menjadi makin berat dan bahkan dapat menimbulkan kematian.

Patogenesis DBD dan SSD (Sindrom syok dengue) masih merupakan masalah yang kontroversial. Dua teori yang banyak dianut pada DBD dan SSD adalah hipotesis infeksi sekunder (teori secondary heterologous infection) atau hipotesis immune enhancement. Hipotesis ini menyatakan secara tidak langsung bahwa pasien yang mengalami infeksi yang kedua kalinya dengan serotipe virus dengue yang heterolog mempunyai risiko berat yang lebih besar untuk menderita DBD/Berat. Antibodi heterolog yang telah ada sebelumnya akan mengenai virus lain yang akan menginfeksi dan kemudian membentuk kompleks antigen antibodi yang kemudian berikatan dengan Fc reseptor dari membran sel leokosit terutama makrofag. Oleh karena antibodi heterolog maka virus tidak dinetralisasikan oleh tubuh sehingga akan bebas melakukan replikasi dalam sel makrofag. Dihipotesiskan juga mengenai antibodi dependent enhancement (ADE), suatu proses yang akan meningkatkan infeksi dan replikasi virus dengue di dalam sel mononuklear. Sebagai tanggapan terhadap infeksi tersebut, terjadi sekresi mediator vasoaktif yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah, sehingga mengakibatkan keadaan hipovolemia dan syok.

Patogenesis terjadinya syok berdasarkan hipotesis the secondary heterologous infection yang dirumuskan oleh Suvatte, tahun 1977. Sebagai akibat infeksi sekunder oleh tipe virus dengue yang berlainan pada seorang pasien, respons antibodi anamnestik yang akan terjadi dalam waktu beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit dengan menghasilkan titer tinggi antibodi IgG anti dengue. Disamping itu, replikasi virus dengue terjadi juga dalam limfosit yang bertransformasi dengan akibat terdapatnya virus dalam jumlah banyak. Hal ini akan mengakibatkan terbentuknya virus kompleks antigen-antibodi (virus antibody complex) yang selanjutnya akan mengakibatkan aktivasi sistem komplemen. Pelepasan C3a dan C5a akibat aktivasi C3 dan C5 menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah dan merembesnya plasma dari ruang intravaskular ke ruang ekstravaskular. Pada pasien dengan syok berat, volume plasma dapat berkurang sampai lebih dari 30 % dan berlangsung selama 24-48 jam. Perembesan plasma ini terbukti dengan adanya, peningkatan kadar hematokrit, penurunan kadar natrium, dan terdapatnya cairan di dalam rongga serosa (efusi pleura, asites). Syok yang tidak ditanggulangi secara adekuat, akan menyebabkan asidosis dan anoksia, yang dapat berakhir fatal; oleh karena itu, pengobatan syok sangat penting guna mencegah kematian. Hipotesis kedua, menyatakan bahwa virus dengue seperti juga virus binatang lain dapat mengalami perubahan genetik akibat tekanan sewaktu virus mengadakan replikasi baik pada tubuh manusia maupun pada tubuh nyamuk. Ekspresi fenotipik dari perubahan genetik dalam genom virus dapat menyebabkan peningkatan replikasi virus dan viremia, peningkatan virulensi dan mempunyai potensi untuk menimbulkan wabah. Selain itu beberapa strain virus mempunyai kemampuan untuk menimbulkan wabah yang besar. Kedua hipotesis tersebut didukung oleh data epidemiologis dan laboratoris.

 

Sebagai tanggapan terhadap infeksi virus dengue, kompleks antigen-antibodi selain mengaktivasi sistem komplemen, juga menyebabkan agregasi trombosit dan mengaktivitasi sistem koagulasi melalui kerusakan sel endotel pembuluh darah. Kedua faktor tersebut akan menyebabkan perdarahan pada DBD. Agregasi trombosit terjadi sebagai akibat dari perlekatan kompleks antigen-antibodi pada membran trombosit mengakibatkan pengeluaran ADP (adenosin di phosphat), sehingga trombosit melekat satu sama iain. Hal ini akan menyebabkan trombosit dihancurkan oleh RES (reticulo endothelial system) sehingga terjadi trombositopenia. Agregasi trombosit ini akan menyebabkan pengeluaran platelet faktor III mengakibatkan terjadinya koagulopati konsumtif (KID = koagulasi intravaskular deseminata), ditandai dengan peningkatan FDP (fibrinogen degredation product) sehingga terjadi penurunan faktor pembekuan.

Agregasi trombosit ini   juga mengakibatkan gangguan fungsi trombosit, sehingga walaupun jumlah trombosit masih cukup banyak, tidak berfungsi baik. Di sisi lain, aktivasi koagulasi akan menyebabkan aktivasi faktor Hageman sehingga terjadi aktivasi sistem kinin sehingga memacu peningkatan permeabilitas kapiler yang dapat mempercepat terjadinya syok. Jadi, perdarahan masif pada DBD diakibatkan oleh trombositpenia, penurunan faktor pembekuan (akibat KID), kelainan fungsi trombosit, dan kerusakan dinding endotel kapiler. Akhirnya, perdarahan akan memperberat  syok  yang terjadi (sumber).

Tanda dan Gejala

Klasifikasi kasus yang disepakati sekarang adalah (WHO, 2009): 1. Dengue tanpa tanda bahaya (dengue without warning signs), 2. Dengue dengan tanda bahaya (dengue with warning signs), dan 3. Dengue berat (severe Dengue)

Kriteria dengue tanpa/dengan tanda bahaya : Dengue probable : • Bertempat tinggal di /bepergian ke daerah endemik dengue • Demam disertai 2 dari hal berikut :  Mual, muntah  Ruam  Sakit dan nyeri  Uji torniket positif  Lekopenia  Adanya tanda bahaya • Tanda bahaya adalah :  Nyeri perut atau kelembutannya  Muntah berkepanjangan  Terdapat akumulasi cairan  Perdarahan mukosa  Letargi, lemah  Pembesaran hati > 2 cm  Kenaikan hematokrit seiring dengan penurunan jumlah trombosit yang cepat Dengue dengan konfirmasi laboratorium (penting bila bukti kebocoran plasma tidak jelas)

Kriteria dengue berat : • Kebocoran plasma berat, yang dapat menyebabkan syok (DSS), akumulasi cairan dengan distress pernafasan. • Perdarahan hebat, sesuai pertimbangan klinisi • Gangguan organ berat, hepar (AST atau ALT ≥ 1000, gangguan kesadaran, gangguan jantung dan organ lain)

Untuk mengetahui adanya kecenderungan perdarahan dapat dilakukan uji tourniquet, walaupun banyak faktor yang mempengaruhi uji ini tetapi sangat membantu diagnosis, sensitivitas uji ini sebesar 30 % sedangkan spesifisitasnya mencapai 82 % (Mayxay et al, 2008).

Pemeriksaan (sumber)

Pemeriksaan Non Struktural 1 (NS1) ditujukan untuk mendeteksi virus dengue lebih awal. Virus dengue memiliki 3 protein structural dan 7 protein non-structural. NS1 adalah glikoprotein non structural yang diperlukan untuk kelangsungan hidup virus.

Keuntungan mendeteksi antigen NS1 yaitu untuk mengetahui adanya infeksi dengue pada penderita tersebut pada fase awal demam, tanpa perlu menunggu terbentuknya antibodi.

Dengan demikian kita dapat segera melakukan terapi suportif dan pemantauan pasien . Hal ini tentunya akan mengurangi risiko komplikasi seperti demam berdarah dengue dan dengue shock syndrome yang dapat berakibat kematian.

Pemeriksaan Dengue NS1 Antigen sebaiknya dilakukan pada penderita yang mengalami demam disertai gejala klinis infeksi virus dengue (pada hari 1-3 mulai demam) untuk mendeteksi infeksi akut disebabkan virus dengue.

Menurut Dr.Aryati,dr, MS, Sp.PK(K), positivitas dan kadar Ag NS1 Dengue tertinggi pada hari-hari awal demam dan akan menurun dengan bertambahnya hari demam, sehingga sebaiknya dilakukan sebelum hari keempat demam.

Pemeriksaan serologis berupa IgM dan IgG antidengue diperlukan untuk membedakan demam yang diakibatkan virus dengue ataukah demam oleh sebab lain (demam tifoid, influenza, malaria, hepatitis dan lain-lain).

Penatalaksanaan

  1. Tirah baring
  2. Pemberian makanan lunak
  3. Minum banyak 1,5-2 liter/24 jam dengan air teh, gula atau susu.
  4. Hindari sikat gigi
  5. Pemberian cairan melalui infuse
  6. Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik
  7. Pantau tanda-tanda vital (Tekanan Darah, Suhu, Nadi, RR).
  8. Pantau adanya tanda-tanda renjatan
  9. pantau tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
  10. Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.

Pencegahan (sumber)

Pencegahan demam berdarah yang paling efektif dan efisien sampai saat ini adalah kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus, yaitu :   1) Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain 2) Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya; dan 3) Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular Demam Berdarah.

Adapun yang dimaksud dengan Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan seperti 1) Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan; 2) Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk; 3) Menggunakan kelambu saat tidur; 4) Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk; 5) Menanam tanaman pengusir nyamuk, 6) Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah; 7) Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain. PSN perlu ditingkatkan terutama pada musim penghujan dan pancaroba, karena meningkatnya curah hujan dapat meningkatkan tempat tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD, sehingga seringkali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) terutama pada saat musim penghujan.

Daftar Pustaka

Mayxay M, Keoluangkhot V, Sisouphone S, Vongpachanh P, Moore C, Thaochaikong T, Thongpaseth S, Phetsouvanh R, Strobel M et al. Tourniquet test and dengue in Lao adult patients. Global Innovation to Fight Dengue. 2nd International Conference on Dengue and Dengue Haemorrhagic Fever. Phuket Thailand, 2008. p. 234.

World Health Organization. Dengue Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control. New edition. Geneva. 2009.

 

This entry was posted in Tren dan Isue. Bookmark the permalink.

2,696 Responses to Demam Berdarah Dengue

  1. It’s not my first time to pay a quick visit this web site

  2. It’s not my first time to pay a quick visit this web site

  3. life is so differnet, oone has tto unddrstand the information and mawke their life accordingly.

  4. Amazing! This blog looks exactly like my old one! It’s on a entirely
    different topic but it has pretty much the same layout
    and design. Outstanding choice of colors!

  5. Pretty! This has been an extremely wonderful post.
    Thank you for supplying these details.

  6. Great transaction. Super fast shipping and great packing. Thanks!

  7. Hello There. I discovered your weblog using msn. This
    is a very well written article. I will be sure to bookmark it and return to
    read extra of your helpful info. Thanks for the post.
    I will definitely comeback.

  8. If the solution to your overnight catastrophe is a thing
    you can not rather handle on your personal, here are some short-term fixes that will
    get you by means of a evening or a weekend until finally
    you can call in a experienced.

  9. In B2B with ecommerce internet site is the selling area for business to company aand also
    peoplle click them as well as allow on the internet orders.

  10. Parents! Protect your kids from view of adult content by putting in of
    this free Parental Management Bar Nice website specializing in busty asians.
    There are houndrets of high quality motion pictures able to download!
    Be a part of and get further entry to other sites in LusPorn Network!

    Kinky Gfs – simply personal amateur photos and videos of ex girlfriends Watch this hottie Sara Stone sucking a cock of her Watch this
    hottie Sara Stone getting banged by her Watch this horny and kinky babe Ay
    Ried getting Watch this hottie Alyiah Stone withher good Keep in mind
    that this is about one of the best boobs, not necessarily
    the biggest. FlipDock and Imp0ssibl3 have been working onerous on this article; many hours of research
    were carried out to make sure the best of
    the best have been chosen. Get pleasure from.

  11. m88 poker says:

    It’s not my first time to pay a quick visit this web site, i am
    visiting this web site dailly and obtain fastidious information from here all the time.

  12. Do you have a spam problem on this website; I also am a blogger, and I was wondering your situation; we have developed some nice methods and we are looking to swap methods
    with others, why not shoot me an email if interested.

  13. Other than the english speaking countries, cpa grip has many high
    paying best presents for countries like france, germany, netherlands etc.
    Cpagrip french gives are mostly well-liked among publishers because the payout
    of the french presents are really excessive.
    In the picture below you may see some of the greatest french offers at cpagrip.

  14. Sherlene says:

    These applications are either pre-installed on phones during manufacture, or downloaded by
    customers from app stores and other mobile software distribution platforms.
    Different life skills developed through playing games:.
    The best part about these online flash games is that there
    is absolutely no need of any download, and apart from that accessibility to these games are also quite
    easy.

  15. Very descriptive article, I enjoyed that a lot. Will there be a part 2?

Leave a Reply to browse around this website Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments Protected by WP-SpamShield Spam Blocker